Viral Boleh Hooks Jangan

Table of Contents


Diera yang serba cepat ini, banyak informasi yang masuk silih berganti tanpa ada filter yang bisa membedakan benar atau salah. Semua info keluar begitu saja dan menumpuk menjadi satu. 

"No viral, no justice"  sekarang ini kata-kata ini menjadi sangat populer di masyarakat. Tumbuhlah kebiasaan baru yang meresahkan. Semua hal di video lalu diunggah. Harapannya dari unggahan itu akan menjadi viral dan sekejap mata sang pemilik akun menjadi terkenal. 

Viral boleh, hooaks jangan. Ketenaran secara instan atau hanya ingin mempermalukan orang lain dengan cara viral sekarang ini menjadi hal yang lumrah ditengah masyarakat. Mereka tidak perduli apakah berita itu benar atau tidak yang pastinya masyarakat sedang butuh media untuk menyalurkan stres mereka lewat memakai, sumpah serapah secara membabi buta tanpa harus memikirkan norma.


Era Digital Pisau Bermata Duag





Beberapa hari lalu aku bertemu dengan orang hebat. Bapak Ipda Dodi Handoko. S.H.M.KN. beliau menjelaskan kalo sekarang ini banyak sekali pelanggaran dalam berkomunikasi lewat sosial media. 

Era digital saat ini, masyarakat mendapatkan informasi dari konten-konten yang kebenarannya belum bisa dipertanggung jawabkan. 

Ambil contoh konten anak menangis dan memanggil ayahnya yang sudah meninggal akibat di masa warga karena ketahuan mencuri ayam berkali-kali. 

Akun lain mengunggah video dengan narasi yang berbeda. Seolah-olah pencuri itu adalah seorang pahlawan yang sedang sial diamuk masa. Kesalahan pahaman yang berujung hilangnya nyawa. 

Satu video dramatis, memainkan emosi berhasil membuat warga net geram. Banyak cacian, makian, sumpah serapah yang diketik tanpa mau mencari kebenaran terlebih dahulu. 


Sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Bapak Andy Sigit selaku Genpi Semarang bahwa masyarakat bisa menjadi user yang cerdas. Bukan hanya asal cepat agar bisa viral semata.

Masih ingatkah banyak hal viral yang dibela masyarakat Indonesia bahkan malah jadi bumerang. Seluruh warga Indonesia kena prank dari konten viral yang mengaduk-ngaduk emosi.

Manipulasi Informasi

Masyarakat Indonesia sedang haus akan informasi provokasi. Semakin provokasi semakin viral konten itu. Konten misleading tentang pemerintah adalah berita yang saat ini tengah diburu. 

Misleading merupakan konten yang dipotong-potong hingga menjadi satu konten utuh, konten dengan tujuan membuat publik memberikan kesimpulan yang negatif.

Bapak Setiawan Hendra Kelana Ketua PWI Jawa Tengah menjelaskan bahwa hoaks dan misleading adalah sesuatu yang berbeda tapi sama. Hoaks 100% berita bohong dan misleading merupakan perpaduan kebohongan dan kebenaran yang dicampur, hingga tidak terlihat adanya manipulasi pada berita.

Konten Adalah Uang

Konten sekarang ini lebih banyak berunsur misleading. Dengan unsur ini berita akan mudah naik dan view jutaan bisa dihasilkan dalam beberapa jam saja. 

View tinggi berarti akan ada dolar yang di dapat dalam monetes. Pembuat konten tidak perduli apakah konten itu bermanfaat, membuat kerusuhan atau tidak yang terpenting adalah pundi-pundi di dapat.

Padahal banyak sekali konten-konten bermanfaat yang bisa menghasilkan dolar. Konten , memasak, pariwisata, lagu dan masih banyak lagi. 

Kanwil Kemenkumham Jateng Dr. R. Danang Agung Nugroho,S.H., M.H. menginformasikan dari adanya kegiatan ekonomi yang menghasilkan, maka seluruh konten kreator memiliki NIB. Agar data keuangan para kreator tidak dibekukan dan pendataan wajib pajak yang terstruktur.

Baiklah untuk kawan-kawan yuk mulai sekarang lebih jeli dan berhati-hati dengan berita yang ada di luaran sana 🧘🪷


Post a Comment